Tindak lanjut dari peristiwa ini dilakukan evakuasi satwa buaya yang menyerang warga dibantu masyarakat sekitar. Alhasil buaya sepanjang 4 meter tersebut berhasil dievakuasi pada Senin, 27 Januari 2020 pukul 06.30 Wita di Danau Towuti.
“Sayangnya pada proses evakuasi Buaya tersebut mati ketika sampai di Lokasi Kantor Daops Manggala Agni yang sebelumnya hendak di rilis ke habitat yang jauh dari penduduk. Penyebab kematian buaya masih belum diketahui dan sedang dilakukan otopsi oleh tim WRU agar diketahui penyebab kematian buaya tersebut,” jelas Alam.
Sementara itu, Kepala Balai Besar KSDA Sulsel Ir.Thomas Nifinluri, M.Sc menambahkan, konflik satwa liar dengan manusia terjadi karena dinamika perubahan lanskap dan kehidupan yang pesat.
Thomas menuturkan, ini bisa dimininalisir konfliknya dengan batas-batas yang jelas namun tetap terbatas karena banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan. Satwa liar ada wilayah jelajah hidup.
“Sementara ruang hidup sudah terbatas. Sedang Manusia berkegiatan cenderung tanpa batas. Salah satu cara adalah dengan kelola habitat baik untuk satli maupun manusianya,” tutup Thomas. (Red/Sub/Awa).







