Liputantoday.com (Siak) — Ironi mewarnai wajah Kabupaten Siak. Di saat ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan guru belum menerima gaji, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Siak justru sibuk menggelontorkan anggaran untuk proyek-proyek mewah melalui Dinas Perhubungan.
Tercatat, dua tender senilai hampir Rp 3 miliar digulirkan, memantik dugaan kuat terjadinya pemborosan, mark-up anggaran, hingga potensi korupsi.
Kondisi keuangan Pemkab Siak saat ini tergolong kritis, dengan defisit anggaran mencapai Rp 229 miliar. Hingga berita ini diturunkan, gaji 9.155 guru PNS dan honorer belum dibayarkan. Tunjangan Profesi Guru (TPG) macet sejak Oktober 2024, dan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) ASN menunggak sejak Desember 2024.
Pernyataan Kontroversial Wabup Husni Merza
Di tengah situasi genting ini, Wakil Bupati Siak, Husni Merza, justru memantik kemarahan publik. Dalam apel ASN di halaman Kantor Bupati Siak, Husni melontarkan pernyataan kontroversial:
“Kalau ada pegawai yang tidak bisa makan atau cuma makan pakai garam, datang ke rumah saya!”
Ucapan tersebut viral di media sosial dan dianggap mencederai martabat rakyat. Alih-alih menunjukkan empati, Pemkab Siak dinilai justru mempertontonkan arogansi di hadapan rakyat yang tengah kesusahan.
Tender Mencurigakan Dinas Perhubungan Siak
Sementara itu, Dinas Perhubungan menjadi sorotan lantaran menggelar dua tender besar di tengah defisit akut:
- Sewa Sarana Transportasi Air ke Desa Teluk Lanus
- Kode Tender: 10006168000
- Nilai Pagu: Rp 1.007.546.240
- Nilai HPS: Rp 995.186.063,31
- Tanggal Tender: 24 Desember 2024
Proyek ini dinilai tidak mendesak, sebab akses transportasi ke desa tersebut masih normal. Nilai sewa kapal yang diduga melambung jauh dari standar pasar juga memperkuat indikasi mark-up anggaran. Skema sewa murni tanpa aset memperbesar potensi pemborosan APBD.
- Pembelian Layanan Angkutan Sekolah Gratis Mobil Penumpang
- Kode Tender: 10008581000
- Nilai Pagu: Rp 1.835.568.150
- Nilai HPS: Rp 1.685.178.290,40
- Tanggal Tender: 7 Januari 2025
Proyek ini diklaim untuk menyediakan transportasi gratis bagi pelajar. Namun, kontraknya hanya berbasis jasa sewa tanpa pembelian kendaraan, mengakibatkan uang rakyat habis tanpa memberikan manfaat jangka panjang.
Aroma Busuk dalam Pengelolaan Anggaran








