“Konser Nada-nada nan Tak Bertepi rasanya bertepi di hati saya. Karena penyelenggaraannya begitu sederhana tapi sangat menyenangkan, Kebetulan teman-teman yang hadir hampir semua mengenal sehingga suasananya hangat. Dan terima kasih atas sajian ini, saya merindukan lain kali,” ujar Sunaryo. Seniman pemilik art space ‘Selasar Sunaryo’ itu berharap konser serupa bisa berlangsung kembali. Diketahui bahwa beliau merupakan sahabat sekaligus penggemar setia Ibu Ati.
“Saya kebetulan sahabatnya Ati sejak di SMA. Tadi mendengar suara Ati itu, aduh, sangat puas banget. Suaranya bagus. Keren, keren, keren,” kata salah seorang hadirin.
Sementara itu, Yohanes sendiri berpendapat, “saya mengucapkan terima kasih karena sudah dilibatkan dalam konser, jadi saya bisa mengiringi seorang Soprano Ati Sriati dan Farman Purnama. Saya merasa bangga dan kayaknya jerih payah selama ini terbayar karena malam ini konsernya sukses, Saya santai banget mengiringi keduanya. Saya juga senang karena Ibu Ati setelah berpuluh tahun ini terus menyumbangkan tenaganya untuk musik klasik di Bandung.”
Beragam kesan bahagia terlihat dari antusiasme hadirin. Mereka bersetia menunggu konser itu selesai sampai lagu terakhir, Bunga dan kado-kado istimewa diberikan seusai acara. Para sahabat dan penggemar memberikan ucapan selamat tak henti-henti kepada para penyaji acara.
“Menyanyi bagi saya itu mengisi jiwa. Saya dikaruniai suara, Maka dari itu harus dipelihara karena yang menciptakan suara ini telah memberi ‘Sesuatu’ untuk saya. Jadi saya mendalami betapa luar biasanya mukjizat Tuhan,” ungkap Ibu Ati.
Selaras dengan ungkapan itu, konser tersebut memang sengaja ditujukan untuk penggalangan dana Pusat Pengembangan Potensi Anak (PUSPPA) Surya Kanti, Bandung. Yayasan tersebut merupakan badan sosial non-profit yang bergerak di bidang potensi anak.
“Saya bisa mempelajari hal yang sulit di dalam menyanyi klasik. Saya banyak belajar dari situ,” ungkapnya kemudian.
Malam itu, di atas panggung, sebuah piano hitam pun ditutup. Sanjungan meriah akhirnya berhenti setelah beberapa lama. Tiga orang di atas panggung itu pun turun, saling memberi pelukan hangat. Mereka semua telah mempersembahkan sebuah energi yang berasal dari ketulusan, cinta kasih, proses, dan kerja keras.
Penulis : R. Abdul Azis.
Editor : Fifi.

