Gatot juga mengatakan mahasiswa termasuk kalangan yang rentan disusupi ketiga hal tersebut. Sebab, mahasiswa merupakan kaum muda yang masih mencari jati diri haus akan pengetahuan.
“(Yang rentan terpapar paham ini) salah satunya seperti adik-adik mahasiswa sekalian. Kenapa? Karena masih mencari jati dirinya. Ketika masih mencari jati diri, kemudian terpengaruh, lalu dia bisa membentuk kelompok tertentu yang berkembang secara terus-menerus. Nah, ini yang harus diantisipasi. Kalau dibiarkan berkembang, akan berbahaya terhadap persatuan dan kesatuan bangsa,” ujar Gatot.
Oleh sebab itu, Gatot berpesan agar para mahasiswa lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Ia juga berpesan agar generasi muda saat ini bisa menjadi ‘cooling system’ dalam mencegah terjadinya konflik sosial yang bisa memicu perpecahan bangsa.
“Adik-adik harus menjadi bagian terdepan bangsa ini yang harus menjaga toleransi, agar bangsa ini tetap ada. Adik-adik menjadi yang terdepan untuk menjadi bagian dari cooling system. Kalau ada pihak tertentu yang memprovokasi agar terjadi konflik sosial, khususnya yang terkait isu sensitif, seperti agama, ras, jangan kita menjadi provokatornya, tapi menjadi sistem pendinginnya, cooling system, sehingga bangsa kita menjadi bangsa yang ramah, bukan anarki,” ujar Gatot.(Red)








