Sesuai dengan instruksi presiden terkait situasi di Natuna dikatakan tidak ada kompromi dengan China tetapi melakukan tindakan terukur. Adapun tindakan Bakamla RI saat ini terhadap 50 kapal ikan China dan 2 China Coast guard, tegas saya perintahkan usir mereka karena tegas klaim kita bahwa perairan Natuna ini punya kita.
Laksdya Taufiq menambahkan, kita harus mengetahui perilaku dari China, kenali dirimu, kenali musuhmu, seratus pertempuran seratus kemenangan. Jadi kita harus mengerti perilaku China. Pertama, kenapa China turun ke laut China Selatan karena mereka butuh sumber daya alam. Kedua keamanan, China adalah negara yang tidak pernah ekspansi tapi difensif. Ketiga adalah masalah geopolitik, China mau mendominasi laut China Selatan karena laut Natuna adalah akses ke Samudera Hindia, oleh karena itu China mau mendominasi jalur pelayaran tersebut secara niaga dan militer. Untuk mengamakan tersebut, makanya mereka membuat pangkalan-pangkalan di laut China Selatan dipulau buatan. Keempat, terkait internal yaitu nine dash line.
Sehingga apapun yg kita kerjakan disana, China tidak akan mundur. Bakamla RI saat ini berada didepan karena area tersebut adalah area berdaulat yaitu lebih kepada penegakan hukum jadi biarlah Bakamla RI sebagai Indonesian Coast Guard menghadapi China Coast Guard tidak secara militer.
Tindakan yang dilakukan China, kita imbangi dengan strategi yaitu dengan abaikan peraturan perikanan, kirim semua kapal besar ikan di Pantura ke Natuna dan Bakamla RI akan kawal sambil kita gaungkan bahwa China telah melanggar hukum Internasional.
Personel Bakamla RI harus memahami kenapa Bakamla RI didepan dalam menangani Natuna, Karena ini bukan situasi perang dan pada saat kita melakukan suatu operasi walaupun operasi militer yang kita gunakan adalah asas legitimate yaitu tindakan hukum.
Menutup arahannya, Laksdya Taufiq mengatakan bahwa karakter personel Bakamla RI adalah harus cerdas, berani dan punya keteguhan. (Red/Navi/Bakamla RI/Indonesian Coast Guard).








