Begitu juga pihak keluarga yang bertugas di Surabaya juga tidak dapat menerima dengan perwakilan tambang tempat korban bekerja.
“Paman yang di Pangkalan Angkatan Laut di Surabaya tidak terima sama sekali, itu Paman dari mamak itu, cuma aku yang buta huruf pak cuma keluarga tidak menerima,” tandasnya.
Dia menjelaskan, pihak keluarga tidak bisa menerima dengan alasan satu nyawa yang melayang dalam kecelakaan tambang seolah-olah bisa ditukar dengan uang.
Yang tidak menerima dan yang paling pahit ini terus terang keluarga dari mama saya. Paman saya itu ibaratnya bapak angkat ayah saya karena masih keluarga mama, adik mama sendiri yang tidak menerima. Jadi kalau mereka itu datang dari sana nanti sekejab, tapi masih ku cegah. Kalau tidak terima dengan kejadian ini kita akan bisa tempuh ke jalur hukum. nyawa itu jangan dianggap seperti boneka,” tegasnya.
Dalam kesempatan ini pula, Isnaini mengungkapkan jika pihak perwakilan tambang telah memberikan uang santunan Rp. 10 juta pada saat jenazah korban akan dikebumikan. Namun beberapa hari kemudian perwakilan dari pemilik tambang kembali mendatangi rumah duka dengan membawa surat perdamaian yang isinya memberikan santunan sebesar Rp. 25 juta dan belum ditandatangani oleh orang tua korban.
“Ini jelas ditolak paman dan tidak terima. Karena harus peraturan hukum sesuai dengan peraturan perusahaan. Kalau soal aku damai-damai saja pak dengan perjanjian ini tadi, tapi yang masalah ini keluarga tidak mau menerima. Manalagi mereka berpangkat pak bukan seperti saya. Pemberian uang itu basa-basi saja, karena pas saat itu saya panggil bapak dia larang, itu disaksikan oleh tetangga,” jelasnya pada awak media. (Mon).

