LiputanToday.Com (Jakarta) – Guru adalah Manusia Sakti yang Ditugaskan untuk Mencerdaskan Anak Bangsa, tapi terkadang pengorbanannya tidak sesuai dengan upahnya. Rabu (27/11/2019).
Indonesia salah satu Negara terbesar di dunia dengan jumlah penduduk hampir 300 juta jiwa, total penduduk yang sebanyak itu otomatis Negara butuh energi keras untuk mencerdaskan rakyatnya dan guru adalah alatnya.
Tapi, melihat fenomena tersebut pendidikan Indonesia di liputan teriakan demi teriakan dari pelosok negeri, betapa pilunya dunia pendidikan di negeri tercinta ini, padahal anggaran untuk pendidikan Indonesia sangat besar tapi masih saja banyak anak yang putus sekolah dan tidak mampu membayar kuliah.
Mendengar kata kuliah pun sampai detik ini masih menjadi barang mewah karena mahalnya ongkos yang dikeluarkan, Beasiswa hanya berkutat pada orang sekelilingnya saja dan informasi seolah tidak disebarluaskan mengingat Anggaran Pendidikan Indonesia Tahun 2020 sebesar Rp. 508 Trilyun, menurut Presiden terpilih RI Joko Widodo ini bukanlah uang kecil, karena fokus kabinet Indonesia maju saat ini membangun manusia seutuhnya.
Bersumber dari kata data. data peserta didik di Indonesia menurut jenjang pendidikan Tahun Ajaran (TA) 2017/2018. Jumlah peserta didik untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) sebanyak 25,49 juta jiwa atau sebesar 56,26% dari total perserta didik yang mencapai 45,3 juta jiwa. Adapun peserta didik Sekolah Menengah Pertama (SMP) mencapai 10,13 juta jiwa (22,35%).
Sedangkan peserta didik untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) mencapai 4,78 juta jiwa (10,56%) dan untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebanyak 4,9 juta jiwa (10,83%).
Presiden RI Indonesia saat ini fokus membangun manusia Indonesia seutuhnya, maka dari itu ditunjukkan seorang Nadiem Makariem seorang anak muda cerdas lulusan Harvard yang akan memberikan Inovasi terhadap pendidikan Indonesia.
Saya yakin, tidak sembarangan Joko Widodo menunjuk Nadiem Makariem yang merupakan pencetus Start up gojek tersebut, Indonesia butuh pembaharuan dalam mengejar ketertinggalan di dunia pendidikan, Karena menteri-menteri yang lama tidak sesuai dengan ekspektasi dari sang presiden.








