Kasus Zikria Dzatil, Bukti Rendahnya Literasi Media Sosial

LiputanTODAY.Com (BOGOR) – Zikria Dzatil, perempuan 43 tahun yang menghina Walikota Surabaya akibat postingan facebook-nya, akhirnya ditangkap kepolisian. Sambil terisak tangis, ibu 3 anak asal Bogor ini mengaku menyesal atas perbuatannya. Dan meminta maaf kepada Ibu Risma sang walikota. Katanya, ujarannya di media sosial itu hanya sekadar emosi dan terbawa situasi di media sosial.

Prihatin, media sosial lagi-lagi “memakan” korban. Zikria Dzatil, tentu hanya salah satu dari ribuan contoh orang yang gagal ber-media sosial. Bukti rendahnya literasi media sosial di kalangan masyarakat. Media sosial dipakai hanya untuk menebar kebencian yang akut, sambil menyebarluaskan berita bohong. Bahkan tidak jarang di dekat kita sekarang, mereka yang masih saja menggunakan media sosial tanpa adab, tanpa etika. Sekali lagi, ini bukti rendahnya literasi media sosial. Sekalipun para pengguna media sosial pasti mengaku berpendidikan.

Agak aneh harusnya. Ibu Zikria Dzatil itu warga Bogor. Tapi berani menghina Walikota Surabaya yang secara geografis tidak ada hubungan dengannya. Konon, dia emosi dan ingin membela Gubernur DKI Jakarta yang juga bukan wilayahnya untuk dibela. Jadi, apa sebenarnya yang dibela? Lalu, kenapa pula harus membenci orang lain yang sama sekali tidak dikenalnya? Apa sebenarnya fungsi media sosila buatnya? Mungkin jawabnya, akibat adanya kebencian yang akut terhadap orang lain, atau terhadap keadaan. Lagi-lagi, ini bukti rendahnya literasi media sosial yang terjadi di masyarakat. Itu fakta.

Tentu, bukan hanya Zikria Dzatil yang harus belajar dari kondisi ini. Namun, semua yang ber-media sosial pun harus mengambil hikmah dari apa yang terjadi. Untuk apa ber-media sosial, bila akhirnya menyengsarakan diri sendiri dan bahkan keluarganya? Apa dalil yang membenarkan kebencian layak diumbar di media sosial? Itulah pentingnya literasi media sosial.

Sungguh, tidak ada urusan siapa membela siapa. Bahkan siapa membenci siapa. Silakan dan itu hak masing-masing. Tapi penting di kedepankan, mengapa kebencian harus diumbar di media sosial? Lalu, mengapa banyak orang gemar menebar kebencian via media sosial? Tanyakan kepada diri sendiri, kenapa dan kenapa?

Literasi media sosial, sejatinya, adalah kesadaran masyarakat untuk memahami fungsi media sosial. Bukan hanya mampu memilih informasi yang baik. Tapi setiap pengguna media sosial pun harus bertanggung jawab secara moral. Media sosial harus melibatkan akal budi pada setiap unggahannya. Tidak cukup hanya akal, tapi budi pekerti atau akhlak pun harus diikutsertakan.