“Setelah telur penyu didapat, Asse kembali ke kampung atau rumah kemudian membagi telur tersebut kepada keluarga dan tetangga untuk dikonsumsi,” demikian ujar Hendra.
Ia mengambahkan, kegiatan berburu telur penyu ini menjadi rutinitas Asse selama beberapa tahun.
Namun, seiring berjalannya waktu, Asse mulai sadar bahwa aksinya selama ini salah. Bukannya tanpa sebab, hal ini dilatarbelakangi adanya sosialisasi dari petugas Taman Nasional Taka Bonerate yang terus digalakkan tentang pentingnya pelestarian penyu dan biota laut langka lainnya.
Kini, Asse telah berubah 100%, dulunya pemangsa penyu, sekarang menjadi pelestari penyu, dan orang Jinato menyebutnya sebagai pawang penyu.
Informasi yang dikumpulkan, sejak Agustus 2019 sampai dengan Januari 2020. Sudah 12 jejak dan sarang penyu yang Hasse temukan. 1 di sisi timur, dan 11 sarang dan jejak di sisi selatan pantai barat Pulau Jinato.
“Asse… Penyu….tello’….. Sissi’ itu orang kampung Jinato panggil Asse,” pungkas Hendra. (Red).








