LiputanToday.com, Menteri Muda dan Dinamis menjadi incaran Jokowi untuk menjadi “Pendamping” di periode mendatang. Kriterianya disebut berusia 20 tahun ke atas. Beragam nama pun ditawarkan masyarakat.
Saya jadi tergelitik untuk menawarkan satu sosok muda tapi juga “Kekinian” yang saya anggap mumpuni untuk menjadi pendamping Presiden, yaitu Rekan saya Diaz Hendropriyono atau yang biasa dipanggil Mas Bos.
Kesan Millenial ini saya tangkap ketika ia menyuguhkan video kampanye PKPI pada musim Pemilu 2019 lalu. Video kampanyenya jauh berbeda dari kampanye partai-partai lainnya, yang masih terkesan klasik dan konvensional. Itu dari sisi “Kekinian” ya…
Nah, dari sisi pendidikan, Diaz memiliki Tiga Gelar Master dari Amerika dan Doktor dari Amerika. Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya, Diaz melanjutkan studi ke Norwich Military University, Amerika Serikat (AS). Gelar Bachelor of Science (B.Sc.) Ia raih dengan predikat Cum Laude hanya dalam waktu dua tahun, tepatnya pada tahun 1999.
Selain itu, Diaz juga masih menyabet penghargaan Dean’s List dan Delta Mu Delta. Dean’s List diberikan kepada mahasiswa dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) di atas 3,6 dan nilai minimal A-untuk semua mata pelajaran.
Sementara itu, Delta Mu Delta dianugerahkan kepada mahasiswa manajemen yang menduduki peringkat 20% teratas.
Selepas pendidikan Sarjana Diaz menempuh studi Pascasarjana nya hingga tiga kali di AS. Pertama-tama Diaz mengambil program Master of Public Administration di Virginia Tech University dan lulus dengan memperoleh Predikat Graduated With Distinction di tahun 2010.
Pendidikan pascasarjana berikutnya ia ambil di Hawaii, yakni program Master of Business Administration dan Master of Arts in Global Leadership dari Hawaii Pacific University.
Meskipun keduanya ditempuh di waktu yang bersamaan, ia berhasil lulus dengan predikat Graduated with Honors pada kedua program tersebut di tahun 2003.
Saat ini, Diaz masih terdaftar dalam program Doctor of Philosophy in Public Administration di Virginia Tech University dan telah menyelesaikan disertasinya.
Selain beberapa pendidikan formal tersebut, ia juga telah menempuh program pendidikan informal. Salah satunya yaitu, Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) yang diselenggarakan oleh Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) pada tahun 2013.
Saat berada di Washington, DC, Diaz sempat bekerja sebagai analis di sebuah Perusahaan Konsultan Politik (Lobbying Firm), yang dipimpin oleh mantan Senator Bennett L. Johnston, dan sebagai Research Associate di sebuah “Think Tank” RAND Corporation.
Memang banyak sosok millenial seperti Diaz. Muda, berbakat, kuliah diluar negeri dan memiliki pengalaman dibidang politik.
Akan Tetapi Diaz memiliki keunggulan dibanding kaum ‘Millenial’ lainnya. Ia punya pengalaman kerja keras dan cerdas baik di swasta dan birokrasi pemerintahan.
Sama hal dengan perjalanan akademisnya, pria beranak tiga ini menorehkan pengalaman yang beragam selama berkarier di sektor swasta.
Pengalaman profesional pertama Diaz didapatkan ketika bekerja sebagai sales dari PT. KIA Otomotif Indonesia. Ia menghabiskan waktu total satu tahun (1999-2000) bekerja di perusahaan yang berbasis di Republik Korea (Korea Selatan) tersebut.
Selanjutnya, selama tahun 2000-2001, Diaz dipercaya menjadi Direktur dari PT Ulam Sari Samudra, sebuah perusahaan yang fokus pada kegiatan distribusi makanan laut yang dibekukan (Frozen Seafood).
Berlanjut di tahun 2011 – 2014, Diaz menjadi Direktur Pengembangan Usaha, PT Andalusia Andrawina sebuah operator Hotel Amaris, Pancoran. Bersamaan juga beliau menjadi Direktur di PT. Etam Coal, sebuah perusahaan batubara di tahun 2012 – 2013. Dan sampai sekarang, ia menjadi Senior Advisor di PT. Segara Laju sebuah perusahaan kapal sejak tahun 2015.








