Siswi SMA Pradita Dirgantara Juarai The 24th ALSA National English Competition

LiputanToday.Com (Boyolali) — SMA Pradita Dirgantara kembali menunjukkan prestasinya. Siswi SMA ini berhasil meraih prestasi dalam The 24th ALSA National English Competition (ALSA E-Comp). Ratu Putri Dewi, Siswi kelas X SMA Pradita Dirgantara berhasil Meraih Juara Pertama pada Kompetisi yang diadakan oleh Asian Law Students Association (ALSA) Local Chapter Universitas Indonesia.

ALSA E-Comp merupakan sebuah kompetisi bahasa Inggris tahunan nasional yang ditujukan untuk pelajar SMA dan mahasiswa. Dikutip dari laman resmi milik ALSA, peserta pelajar SMA dan mahasiswa dari seluruh Indonesia banyak yang mengikuti ajang ini, sehingga secara nasional ALSA E-Comp telah berhasil membuktikan eksistensinya selama 24 tahun, dengan total peserta kompetisi pada tahun 2018 mencapai 797 (tujuh ratus sembilan puluh tujuh) orang dan lebih dari 700 peserta pada tahun 2019. Kompetisi yang telah dilaksanakan sejak tahun 1995 ini, pada tahun 2020 mengusung tema “Take the Opportunity, Achieve the Extraordinary”.

Untuk mempersiapkan kompetisi ini, Oscar Yustino C, S.Pd., M.Pd dan Andriana Vita Nurjannah, S.Pd., M.Hum selaku guru pembimbing melakukan pembimbingan secara online yang dilakukan di malam hari atau selesai pembelajaran siswa. “Pembimbingan dilakukan secara terfokus tiap harinya, misalnya hari ini difokuskan pada paper presentation dan story telling, hari selasa terfokus pada speech dan spelling bee. Meskipun tidak ada penjadwalan tapi anak-anak dipastikan mendapat pelatihan dari kami” ujar Oscar.

Menurut keterangan Oscar dalam babak penyisihan Kompetisi Speech, siswa diminta untuk mengirimkan video, kemudian diumumkan 10 peserta yang lolos semi final, dari 10 orang tersebut diseleksi kembali menjadi 5 orang dan yang terakhir ditentukan juara 1, 2, dan 3. Pembimbing melakukan penyaringan untuk kelas 10 agar memiliki pengalaman lomba dan bisa dipersiapkan di kelas 11 dan 12 untuk lomba-lomba selanjutnya. Kesulitan yang dihadapi pembimbing adalah siswa masih belum pernah bertemu sehingga sulit untuk mendapatkan “rasa dalam tim”. Oscar merasa apabila pembimbingan dilakukan face to face, akan lebih mudah mengelompokkan siswa di kelas, karena dalam lomba, keberadaan tim sangat penting, dan dengan face to face, siswa dapat saling mensupport.