LiputanToday.Com (Pekanbaru) – Kebijakan Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Pekanbaru yang menggelar lomba menulis opini dengan total hadiah Rp10 juta memicu gelombang kritik tajam dari berbagai kalangan. Banyak pihak menilai langkah tersebut tidak hanya melenceng dari tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Dispora, tapi juga mencerminkan ketidaksensitifan terhadap kondisi riil dunia olahraga di Pekanbaru yang tengah terpuruk.
Lomba yang ditujukan bagi warga usia 16 hingga 40 tahun itu diumumkan melalui berbagai kanal resmi Dispora, dan disebut sebagai upaya “mendorong literasi pemuda”. Namun alih-alih menuai apresiasi, kebijakan ini justru mengundang kecaman, terutama dari pelaku dan pengamat olahraga yang menilai bahwa prioritas Dispora telah bergeser jauh dari substansi kerjanya.
Rahmat Handayani: “Olahraga Kita Lumpuh, Dispora Sibuk Ngurus Opini”
Salah satu kritik paling lantang datang dari Rahmat Handayani, Pemerhati olahraga dan juga presiden club suaraaktual FC, yang menilai program lomba opini ini adalah bentuk pelarian dari tanggung jawab utama. Ia menyebut kebijakan itu tidak hanya melenceng dari garis kebijakan olahraga, tetapi juga menunjukkan kegagalan manajerial di tubuh Dispora Kota Pekanbaru.
“Ini bukan hanya salah arah, tapi sudah menyepelekan kebutuhan dasar atlet. Di saat para atlet dan pelatih kita berteriak karena minimnya peralatan dan dukungan, Dispora malah sibuk urus lomba menulis. Kita sedang butuh bola, matras, sepatu, bukan tulisan,” tegas Rahmat, Rabu (23/7/2025).
Rahmat juga meminta Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, turun tangan langsung dan mengevaluasi kinerja Kepala Dispora Pekanbaru, Hazli Fendriyanto, yang ia nilai telah gagal menjalankan tugas sesuai mandatnya.
“Kepada Wali Kota, tolong beri peringatan keras kepada Kadispora. Dunia olahraga ini bukan panggung seremonial dan proyek-proyek asal-asalan. Kami punya generasi muda bertalenta yang butuh didampingi dan difasilitasi, bukan diabaikan dengan program gaya-gayaan,” ucapnya.
Kritik tajam tidak hanya berhenti pada tataran elit media. Sejumlah pelatih dan atlet dari cabang olahraga seperti atletik, taekwondo, bola voli, hingga renang, mengungkapkan bahwa mereka masih kesulitan mendapatkan peralatan latihan yang layak. Banyak yang masih menggunakan fasilitas pinjaman atau bahkan berlatih di ruang publik tanpa pelindung dan standar keselamatan yang memadai.
Seorang pelatih olahraga bela diri yang enggan disebutkan namanya mengaku harus iuran bersama orang tua atlet hanya untuk membeli matras bekas agar anak didiknya tidak berlatih di atas lantai kasar.








