Dede mencontohkan ketika Tim GENPPARI melakukan petualangan ke dalam Goa Nyai di Desa Mekarsari, Pancatengah – Tasikmalaya. Goa ini dinilainya memiliki keunikan dan tantangan tersendiri. Di samping itu juga menyimpan keindahan alam yang sangat luar biasa, meskipun sedikit berbalut kengerian dan “rasa ketakutan”. Bukan saja kekhawatiran adanya binatang – binatang tertentu, tetapi juga kemungkinan adanya mahluk – mahluk lain penghuni goa tersebut. Namun semua itu akan terbayarkan saat bisa melihat keindahan ornamen alam di dalamnya. Keindahan stalaktit dan stalakmit di dalamnya hampir menyerupai keindahan goa Altamira di Spanyol, goa Mamonth dan Carlsbad di Amerika Serikat serta goa Coranche di Perancis.
Goa Nyai sendiri sebenarnya termasuk goa yang cukup berbahaya, sehingga para petualangan goa yang ingin memasukinya harus berhati – hati dan sebaiknya didampingi oleh pendamping ahli dari warga setempat, seperti saat GENPPARI berpetualang di sana langsung didampingi oleh Kepala Desa dan Tim-nya yang mengenal betul area tersebut. Goa ini dikategorikan cukup berbahaya karena di dalam goa-nya banyak air yang tergenang mirip seperti kolam dan juga ada aliran air Sungai Cibanteran dan Cimedang, juga beberapa mata air. Meskipun saat musim kemarau alirannya relatif kecil, tapi tentu sangat berbahaya di saat musim penghujan.
Terakhir Dede menjelaskan bahwa penamaan Goa Nyai, buka berarti goa itu penuh bidadari melainkan karena pada tahun 1986 ditemukan adanya bekas telapak kaki buaya. Meskipun sampai saat ini belum pernah ada yang melihat buaya di dalam goa tersebut. Jadi sebutan “Nyai” dalam hal ini bukan sebutan bagi seorang perempuan, melainkan sebutan untuk buaya yang kemungkinan pernah menghuni goa tersebut. Pungkas Dede mengakhiri diskusi kecil Sabtu sore. (Kiki).








