★★ LiputanTODAY.Com Membuka Peluang untuk Menjadi Kepala Biro & Wartawan di Seluruh wilayah Indonesia, Info Lebih Lanjut Silahkan Contact Telp/Wa : 085264665678. atau di Email : Liputantoday.com@gmail.com ★★

Sempat Viral di Medsos, Aksi Warga Menghentikan Proyek Pemotongan Tanah Tebing Tanpa Mengantongi Ijin Amdal

919
LiputanToday.Com (KENDAL) – Perkembangan pertumbuhan ekonomi dan tingginya pertumbuhan penduduk di wilayah Kecamatan Kaliwungu dan Kaliwungu Selatan menjadikan banyak Pengusaha Pengembangan Perumahan Kota berburu masuk dan membangun di wilayah tersebut, Selasa (19/11/2019).

Dengan adanya perkembangan pembangunan Wilayah Tata Kota haruslah tetap bisa menjaga Kelestarian Alam, serta mempertahankan kearifan-kearifan lokal yang ada disekitar lokasi supaya terjalin sebuah harmonisasi antara pengembang dan warga sekitar.

Seperti yang terjadi di Desa Protomulyo, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Sebuah proyek Pembangunan Perumahan Kota dihentikan paksa oleh masyarakat sekitar beberapa Minggu yang lalu, lantaran diduga mengabaikan kepentingan masyarakat dan kepentingan umum.

Proyek tersebut dihentikan warga karena tidak mengantongi ijin, untuk Pengembangan Perumahan Kota termasuk Analisis Dampak Lingkungan (Amdal), Upaya Pelaksanaan Lingkungan Hidup (UPL) maupun ijin-ijin lainnya. Parahnya lagi yang dikerjakan adalah lahan dibawah Situs Bersejarah yang merupakan makam “Waliyullah Sunan Katong” yang selama ini sudah menjadi ikon Desa Protomulyo sebagai destinasi Wisata Religi yang telah dikunjungi banyak peziarah dari berbagai daerah di Indonesia.

Masyakarakat mengkhawatirkan dengan adanya pemotongan tanah dibawah tebing tersebut akan menimbulkan dampak longsor, yang berada dilokasi situs bersejarah tersebut, serta sangat membahayakan warga sekitar karena akan menimbulkan banjir lumpur ke lokasi permukiman warga yang ada dibawahnya.

Sempat viral di Media Sosial aksi penghentian aktifitas tersebut oleh warga beberapa waktu yang lalu, namun saat ini proyek kembali berjalan seperti biasanya, Nampak beberapa alat berat sedang beraktifitas di lokasi.

Seperti halnya dikutip oleh JurnalisIndonesia.Id, saat awak media berusaha mencari informasi terkait kembali beroperasinya proyek tersebut dengan mendatangi lokasi dan meminta keterangan salah satu koordinator lapangan.

Taufik, salah seorang pekerja yang mengaku Koordinator lapangan (Korlap) proyek tersebut tampak egan saat dimintai konfirmasi dengan menanyakan Anda Siapa, Darimana, Kepantingan Apa, belum puas disampaikan bahwa bahkan wartawan JurnalisIndonesia.Id adalah warga sekitar desa Protomulyo, Taufik meminta wartawan JurnalisIndonesia.Id untuk menunjukan ID Cardnya.

Wartawan tersebut yang juga warga Desa Protomulyo kemudian menunjukan Id Card Medianya untuk Meyakinkan kepada Taufik.

Foto : Alat Berat Sedang Melakukan Kegiatan Proyek Pengerukan di Desa Protomulyo, Kecamatan Kaliwungu, Kab. Kendal (Arn).

Awalnya Taufik menolak untuk memberikan keterangan terkait proyek tersebut, dengan alasan tidak berwenang memberikan keterangan.

“Kalau Saya menolak memberikan keterangan Bagaimana…?,” Ucap Taufik dengan nada Ketus.

Kemudian awak media memberikan penjelasan kepada Taufik, bahwa dirinya boleh saja menolak memberikan keterangan sesuai haknya.

“Tidak apa-apa pak, anda tidak mau memberikan saya keterangan, silahkan itu hak anda, dan nanti hanya akan saya tulis, pihak pengembang menolak memberikan keterangan,” Jelas Wartawan JurnalisIndonesia.Id.

Setelah itu Taufik memberikan menjelaskan kepada awak media, kenapa proyek yang sudah dihentikan masyarakat tersebut bisa beroperasi lagi.

“Kita sudah duduk bersama dengan warga sekitar, serta menghasilkan beberapa kesepakatan,” Terang Taufik.

Beberapa kesepakatan yang disampaikan oleh Taufik antara lain, Sebelum membangun, pihaknya harus membuat saluran air, supaya ketika turun hujan tidak terjadi banjir lumpur yang berpotensi menerjang permukiman warga, membuat tanggul penahan tebing, untuk mencegah terjadinya longsor ke situs makam yang ada diatasnya, serta melibatkan masyarakat sekitar untuk menjadi pekerja dilokasi proyek dan semua kesepakatan tersebut dibuat bersama antara warga sekitar dan pengembang dalam sebuah forum yang di fasilitasi oleh pemerintah Kecamatan Kaliwungu Selatan.

Ketika awak media menanyakan terkait ijin, dirinya menyampaikan sampai saat ini memang baru mengantongi ijin prinsip, karena ijin-ijin yang lain masih tahap proses pengajuan.

Sementara itu, terkait apa yang disampaikan Taufik, awak media menemui Camat Kaliwungu Selatan, Budi Kuntjoro untuk meminta keterangan terkait proyek yang sedang berjalan di wilayahnya.

Budi Kuntjoro menjelaskan, bahwa memang pihaknya yang mengijinkan proyek boleh dilanjutkan, dengan catatan hanya menata lokasi yaitu membuat tanggul penahan tebing dan saluran drainase, supaya banjir dan longsor yang di khawatirkan warga tidak terjadi.

Menurut Budi, ketika proyek ditutup total dan semua kegiatan dihentikan akan sangat rawan, terjadi banjir dan longsor tersebut mengingat lahan sudah terlanjur di Cut and Fill dan belum ada saluran airnya.

“Toleransi yang kami berikan adalah sebatas menata lokasi dengan membuat saluran drainase serta tanggul penahan tebing, itu saja. Selanjutnya tidak kami ijinkan untuk membangun sebelum ijin-ijin dipenuhi,” Jelas Budi.

Budi Kuntjoro juga menjelaskan, siapa saja yang terlibat dalam forum yang dimaksud.

“Selain pengembang dan warga sekitar forum tersebut juga melibatkan unsur Forkompincam yang lain, pemerintah desa serta tokoh-tokoh masyarakat yang ada,” Imbuh Budi. (Feb/Arn).

Translate »