LiputanToday.Com (Jakarta) – Ratusan para pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berjejer dan saling menggenggam tangan, Membentuk sebuah rantai manusia yang mengelilingi Gedung Merah Putih KPK.
Aksi solidaritas para pegawai KPK tersebut berlangsung pada Jumat (6/9) siang itu dilakukan sebagai simbol perlindungan yang diberikan para pegawai kepada pemberantasan korupsi yang kini sedang menghadapi berbagai upaya pelemahan, Salah satunya rencana revisi Undang-Undang KPK yang berpotensi menghambat bahkan menghentikan tugas pemberantasan korupsi yang dilakukan KPK.
Sebelum rantai manusia dibentuk, Wakil Ketua KPK Saut Situmorang berorasi di hadapan ratusan pegawai mengenai amanat United Nations Convention Againts Corruption (UNCAC) yang ikut disepakati Indonesia. Ia menyerukan perlawanan atas berbagai bentuk pelemahan terhadap upaya pemberantasan korupsi yang tidak sesuai dengan amanat UNCAC.
“Harus dilawan, kalau tak sesuai dengan prinsip pemberantasan korupsi, pencegahan korupsi yang telah kita tandatangani,” kata Saut di pelataran Gedung Merah Putih KPK.
Sebelumnya dalam konferensi pers 6 September lalu, Ketua KPK Agus Rahadjo menyatakan penolakannya terhadap rencana revisi Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi.
Dalam keterangannya, Agus menyampaikan 10 persoalan yang berpotensi melemahkan KPK. https://www.kpk.go.id/id/berita/berita-kpk/1212-10-persoalan-di-draf-ruu-kpk.
Seperti Independensi KPK yang terancam, proses penyadapan dipersulit, pembentukan Dewan Pengawas yang dipilih DPR, sumber penyidik dan penyelidik yang dibatasi, hingga kewenangan KPK untuk mengelola pelaporan LHKPN yang dipangkas.
“Jika mencermati materi muatan RUU KPK yang beredar, justru rentan melumpuhkan fungsi-fungsi KPK sebagai lembaga independen pemberantasan korupsi,” ujar Agus.
Aksi diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Seraya mengepalkan tangan di udara, para pegawai bernyanyi secara bersama-sama. Kemudian, dari atas panggung, dua pegawai KPK menyanyikan sebuah lagu karya Efek Rumah Kaca yang bertajuk “Di Udara”. Sebuah lagu yang menggambarkan perlawanan meskipun kerap menerima ancaman.
“Ku bisa tenggelam di lautan, Aku bisa diracun di udara, Aku bisa terbunuh di trotoar jalan. Tapi aku tak pernah mati, tak akan berhenti.”








