Sekitar Pukul 02.00 hingga 04.00 WIB, ternyata ada banyak pendaki yang mulai mendaki, Kondisi yang masih gelap membuat para pendaki harus menyalakan senternya untuk menerangi jalan.
Dibeberapa titik terdapat dua pos pendakian yang harus dilalui pendaki, Setiap pos dilengkapi dengan shelter untuk beristirahat dan tempat duduk. Bahkan di pos I terdapat ornamen tulisan “GUNUNG ANDONG” Kira-kira dengan lebar tiap hurufnya 2 meter, cocok untuk menjadi spot foto buat pendaki yang ingin mengabadikan momen di Gunung Andong.
Puncak Gunung Andong tidak lagi jauh. Hanya satu tanjakan terakhir, maka pendaki akan tiba di puncak Gunung Andong yang memanjang dari barat ke timur. Saat hari libur, wilayah datar di puncak semuanya hampir ditempati oleh ratusan tenda pendaki.
Dengan ramainya, pendaki yang ingin berjalan sampai ke patok penanda Puncak Gunung Andong harus mencari celah jalan di antara tenda. Terkadang jika pendaki dari arah berlawanan berpapasan, terjadilah kemacetan.
Jika berharap mendapat ketenangan yang berpadu dengan nyanyian alam, maka hal itu tidak akan bisa ditemukan di Gunung Andong saat hari libur. Meski demikian, keindahan panorama yang tersaji tetap menawan, entah ketika ramai atau sepi.
Salah satu pendaki asal Wonogiri, Nur Rohmi Aida saat ditemui media LiputanToday.com di puncak Gunung Andong mengungkapkan rasa kebingungan dan bahagia saat sampai di puncak.
“Tidak sangka saja gunung seramai itu. Seperti pasar malam, tetapi tetap asik juga. Pemandangannya bagus,” Terang Rohmi.





