Kondisi ekonomi keluarga tersebut terlihat jelas dari tempat tinggal mereka yang sederhana. Bahkan rumah yang mereka tempati hanya memiliki satu kamar yang digunakan bersama seluruh anggota keluarga.
Ironisnya, di tengah keterbatasan ekonomi yang nyata tersebut, keluarga Ayla belum memiliki dokumen administrasi yang menjadi syarat untuk memperoleh berbagai program afirmasi bagi masyarakat kurang mampu. Akibatnya, kondisi ekonomi yang mereka alami belum sepenuhnya tercermin dalam data administrasi yang menjadi dasar berbagai kebijakan bantuan.
Kisah Ayla menjadi potret bahwa masih terdapat keluarga yang hidup dalam keterbatasan ekonomi namun belum seluruhnya terjangkau oleh sistem pendataan sosial. Padahal secara faktual, kondisi yang mereka hadapi sehari-hari menunjukkan perlunya perhatian dan pendampingan dari pemerintah.
Saat meninjau lokasi, perwakilan DPC GRIB Jaya Kota Pekanbaru menilai bahwa persoalan pendidikan tidak semata-mata dilihat dari kelengkapan administrasi, tetapi juga perlu memperhatikan kondisi riil masyarakat di lapangan.
Menurut mereka, negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan, terutama bagi anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Masyarakat berharap Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, serta pemerintah daerah setempat dapat melakukan pendataan yang lebih menyeluruh terhadap warga yang benar-benar membutuhkan bantuan pendidikan. Dengan demikian, anak-anak dari keluarga kurang mampu tidak kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan hanya karena terkendala administrasi.
Harapan tersebut sejalan dengan semangat Peraturan Gubernur Riau Nomor 26 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Wajib Belajar pada Satuan Pendidikan Menengah, yang bertujuan memastikan seluruh anak usia sekolah memperoleh akses pendidikan yang layak.
Kisah Ayla bukan sekadar tentang seorang siswa yang belum berhasil diterima di sekolah negeri. Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka penerimaan peserta didik, terdapat keluarga yang berjuang keras demi masa depan anak-anaknya.
SPMB 2026 memang telah berakhir. Namun bagi Ayla dan keluarganya, perjuangan untuk memperoleh pendidikan masih terus berlanjut. Mereka tidak meminta kemewahan, hanya berharap agar kesempatan untuk melanjutkan sekolah tetap terbuka, sehingga cita-cita seorang anak buruh angkut Pasar Sukaramai tidak berhenti di tengah jalan karena keterbatasan ekonomi.
Red/team






