, , ,

Polisi Tetapkan 3 Emak-Emak “Penggunting Bendera Merah Putih” Jadi Tersangka

LiputanToday.Com (SUMEDANG) – Polisi menetapkan tersangka terhadap kasus Pengguntingan Bendera yang Viral di Medsos, 3 orang Emak atau Ibu-ibu yang terlibat ditetapkan sebagai tersangka.

“Sudah digelar (Perkara) dan ditetapkan tersangka,” ucap Kasat Reskrim Polres Sumedang AKP Yanto Slamet saat dikonfirmasi, Kamis (17/09/2020).

Ke tiganya yakni P, A dan DY. Meski begitu, polisi belum menjelaskan terkait peran-peran dari ketiganya. Namun sebelumnya disebutkan P merupakan Penggunting Bendera Merah Putih.

AKP Yanto menambahkan, Ketiganya diancam pasal yang sama yakni Pasal 66 jo Pasal 24 huruf A Undang-Undang RI Nomor 24 Tahun 2009 tentang bendera, bahasa dan lambang negara serta lagu kebangsaan.

“Pasal pokoknya sama, (tapi) ada yang 55 dan 56,” terang AKP Yanto.

Sebuah video aksi emak-emak Menggunting Bendera Merah Putih viral di media sosial, Rabu (16/9). Dalam video berdurasi 29 detik itu, terlihat seorang wanita paruh baya tengah memegang gunting dan kain bendera berwarna merah putih.

Perempuan berpakaian merah itu lantas menggunting sedikit demi sedikit bendera merah putih itu. Usai digunting, bendera itu berserakan di lantai.

Diduga ada lebih dari satu orang dalam video itu. Sebab, terlihat ada yang merekam video dan berbicara dalam video. Kata-kata yang terdengar nampak gembira atas pengguntingan bendera tersebut.

“Huuuu rusak huuu, ntar tahun depan beli lagi,” ucap seseorang yang terdengar perempuan dalam video itu.

“Buang ke tempat sampah buang,” ucap perempuan lagi.

Selain itu dalam video juga terlihat pengambil gambar mengarahkan kamera ke seorang bocah yang sedang berdiri, Ada bocah lelaki terlihat berada disekitar aksi emak-emak yang menggunting bendera itu. (mascipoldotcom/red).

, ,

Polisi ungkap Motif Pelaku Penggunting Bendera Merah Putih di Sumedang

LiputanToday.Com (BANDUNG) – Kabidhumas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Erdi A Chaniago menjelaskan Motif pelaku Pengguntingan Bendera Merah Putih di Sumedang yakni karena Jengkel melihat anaknya membawa bendera itu kemanapun.

“Ibu ini tidak memiliki motif kebencian terhadap NKRI, tapi tindakan ini karena kejengkelan kepada anaknya yang mempunyai gangguan mental yang kemanapun selalu membawa Bendera Merah Putih itu,” kata Kombes Pol. Erdi di Polda Jawa Barat, Kota Bandung, Rabu (16/09/2020).

Menurut Kombes Erdi, Ada tiga orang terkait kasus pengguntingan bendera Merah Putih yang diamankan dan menjalani pemeriksaan di Polres Sumedang. Tiga orang itu berinisial P yang merupakan terduga pelaku pengguntingan, dan dua orang lainnya berinisial A dan DY.

Lanjut Kombes Erdi mengatakan kini polisi juga tengah mendalami terkait unsur pidana UU ITE dalam aksi itu, Karena aksi pengguntingan bendera Merah Putih itu diketahui setelah adanya rekaman Video berdurasi 29 detik yang beredar di media sosial.

“Yang menjadi permasalahan adalah ternyata ada yang memvideokan dan memviralkan, nah ini yang menjadi masalah,” kata Kombes Erdi.

Kombes Erdi belum menyebutkan siapa pelaku penyebaran ataupun pembuatan video itu, Namun yang didalami adalah dugaan ada unsur provokasi kebencian terhadap NKRI melalui media sosial.

“Apakah ini masuk kepada perbuatan melawan hukum atau terkait masalah informasi elektronik, penyidik sedang mencari perbuatan niat jahatnya (menyebarkan video),” kata Kombes Erdi.

Sebelumnya, Kepolisian Resor (Polres) Sumedang membenarkan ada aksi pengguntingan bendera Merah Putih yang diduga dilakukan oleh sekelompok orang di Kabupaten Sumedang.

Kepala Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Sumedang, AKP Yanto Slamet mengatakan, Aksi itu diketahui dari adanya rekaman video berdurasi 29 detik.

Dalam video itu, nampak seorang ibu dibantu sejumlah orang lainnya untuk menggunting bendera Merah Putih dengan banyak potongan dan juga ada yang merekam aksi itu dalam video.

“Kronologinya kemarin melakukan patroli siber kemudian di tiktok (Media Sosial) ada video seperti itu, kemudian kami cari orangnya,” kata AKP Yanto. (red).

, ,

3 Polisi Gadungan Pelaku Pencurian Pemerasan di Jakarta dan Bekasi Ditangkap

LiputanToday.Com (JAKARTA) – Polres Metro Jakarta Selatan Menangkap 3 Pelaku Kejahatan Pencurian dengan Pemerasan bermodus Polisi Gadungan yang sudah beraksi belasan kali di sejumlah wilayah Jakarta dan Bekasi.

Menurut keterangan, Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Budi Sartono mengatakan, Satu diantara ke tiga Pelaku merupakan Residivis dengan perkara yang sama.

“Kasus ini menarik, kejadian Pasal 365 dan 368 yakni pencurian dengan pemerasan yang dilakukan polisi gadungan, ada tiga tersangka yang kita amankan,” kata Kombes Budi di Jakarta, Jumat (11/09/2020).

Lebih lanjut Kombes Budi mengatakan, Penangkapan ketiga pelaku R, J, dan OM berawal dari laporan warga ke Polsek Pasar Minggu yang menjadi korban tindak pidana Pencurian dengan Pemerasan.

Total ada lima korban yang melapor. Kronologisnya, saat korban melintas dikawasan Pasar Minggu arah Ragunan tiba-tiba distop oleh ketiga pelaku.

Para pelaku saat itu menggunakan kendaraan minibus, menghadang para kendaraan korban dipinggir jalan, meminta korban menghentikan kendaraan bermotor dengan alasan kendaraan tersebut adalah barang bukti tindak kejahatan.

“Pelaku R memakai seragam polisi menggunakan Senjata Laras Panjang tapi ini ‘Air Softgun’, lalu bilang ke korban motornya diambil karena barang bukti tindak pidana,” kata Kombes Budi meniru perkataan pelaku.

Setelah itu, korban beserta barang buktinya dibawa oleh pelaku, termasuk juga mengambil telepon genggam, dengan alasan dilakukan pemeriksaan.

Para korban lalu dibawa naik menggunakan mobil, dua pelaku membawa motor korban. Lalu, para korban diturunkan di Mapolsek Pasar Minggu.

“Kepada korban pelaku mengatakan untuk mengecek perkaranya di Polsek Pasar Minggu,” terang Kombes Budi.

Para korban yang kebingungan lantas melakukan pengecekan di Polsek Pasar Minggu, namun setelah ditelusuri perkara yang dimaksudkan pelaku tidak tercatat.

Hingga akhinya polisi mengarahkan para korban untuk membuat laporan di Mapolsek Pasar Minggu.

Tim Reskrim Polsek Pasar Minggu lalu melaporkan modus kejahatan yang dialami para korban hingga akhirnya Polres Metro Jakarta Selatan melakukan penyelidikan dan mengejar para pelaku hingga berhasil ditangkap di wilayah Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Menurut Kombes Budi, Pelaku berinisial R merupakan residivis dengan perkara yang sama dan mendapatkan asimilasi pada awal pandemi COVID-19.

“Setelah bebas beberapa bulan lalu, pelaku kembali melakukan tindak kejahatan dengan modus yang sama,” kata Kombes.

Untuk wilayah Jakarta Selatan, pelaku sudah beraksi sebanyak 11 kali, lalu sembilan kali di wilayah Jakarta Pusat dan Kota Bekasi. Pelaku mengambil sepeda motor dan telepon genggam milik korbanya.

Dalam aksinya pelaku R menggunakan seragam polisi berwarna cokelat lengkap dengan rompi yang biasa digunakan tim Buser saat melakukan penindakan.

Selain mengamankan para pelaku, polisi mengamankan barang bukti berupa hasil kejahatan, yakni 11 unit ponsel, satu sepeda motor dengan nomor polisi B 6872 VRE berikut STNK pemiliknya dan satu SIM C atas nama korban Achmad Khildane Hidayat.

Adapun barang bukti alat kejahatan yang digunakan pelaku, satu buah senjata replika jenis laras SS1 warna hitam, satu setel pakaian dinas luar (PDL) Polri dengan papan nama atas nama Bagja, berikut PDLT Polri dan rompi.

Satu unit HT warna hitam, satu buah rompi warna hijau terdapat lambang korplantas Polri, satu mobil minibus Ertiga dengan nomor polisi B 2002 STQ dan satu unit sepeda motor vario warna hitam dengan nomor polisi B 4483 BHX.

Atas perbuatannya pelaku dijerat Pasal 365 dan 368 dengan ancaman pidana penjara sembilan tahun penjara. (mascipoldotcom/red).

, ,

Usai Pesta Sabu di Kebun Sawit 2 Pengedar Diangkut Polisi

LiputanToday.Com (Sergai) – Team Satnarkoba Polres Sergai berhasil meringkus 2 Pelaku yang berperan sebagai pengedar maupun perantara (Kurir-red) di bawah Kebun Kelapa Sawit milik warga, Akibatnya 2 Pemuda penganguran yang tidak memiliki pekerjaan tetap langsung di gelandang ke Mapolres Sergai.

Pengedar sabu tersebut berinisial IS alias Wawan (20) dan YR alias Riyan selaku perantara (Kurir), keduanya warga Dusun II, Desa Pantai Cermin Kiri, Kecamatan Pantai Cermin, Sergai. Kedua pelaku di tangkap saat usai berpesta sabu dibawah kebun kelapa sawit milik warga pada Senin (16/3/2020) lalu sekira Pukul 14:30 WIB.

Hasil penangkapan kedua pelaku, polisi menyita barang bukti 1 bungkus rokok U mild yang berisikan 2 lembar plastik klip sedang diduga berisikan sabu dan 3 lembar plastik klip kecil diduga berisikan sabu dengan berat 1,30 gram, 1 plastik klip kosong, 2 pipet plastik yang ujungnya runcing yang ditemukan dihadapan tersangka dibawah pohon sawit.

Menurut keterangan Kapolres Sergai AKBP Robin Simatupang SH, M.Hum kepada awak media, Jumat (20/3/2020) pagi mengatakan, Penangkapan pelaku menindaklanjuti informasi dari masyarakat tentang adanya peredaran narkotika jenis sabu di wilayah Dusun II, Desa Pantai Cermin Kiri, Kecamatan Pantai Cermin, Sergai.

Atas laporan masyarakat tersebut, team bergerak cepat untuk melakukan penyelidikan sesuai informasi yang didapat. Kemudian team melihat pelaku sedang duduk dibawah perkebunan kelapa sawit milik warga.

“Tersangka IS alias Wawan dan YR alias Rian ditangkap saat sedang duduk di bawah kebun kelapa sawit milik warga, hasil penggeledahan petugas berhasil menemukan barang bukti sabu didalam satu bungkus rokok seberat 1,30 gram,” kata Kapolres Sergai.

Dari hasil interogasi terhadap kedua pemuda tersebut, Pelaku IS alias Wawan mengaku bahwa barang narkotika jenis sabu tersebut diperoleh dari seseorang inisial SI dengan harga Rp. 750.000,- perpaket pada tanggal 14 maret 2020, Namun pada saat dilakukan pengembangan terhadap SI tidak berada dirumahnya.

Bahkan pelaku IS alias Wawan mengaku sebagai pengedar sabu baru berjalan 2 bulan dan itupun karna tidak ada memiliki pekerjaan.

Sedangkan untuk pelaku YR alias Riyan mengaku hanya sebatas menemani atau sebagai perantara alias kurir untuk menjual sabu siapa yang akan membeli sabu dari pelaku IS alias Wawan, Bahkan sebelum beraksi untuk keduanya telah menggunakan sabu (Memakai) dimana pelaku tersebut ditangkap.

“Kedua tersangka dan barang bukti sudah kita amankan di SatNarkoba Polres Sergai untuk proses hukum lebih lanjut dan dikenakan pasal 114 (1) Subs pasal 112 ayat (1) UU RI No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman penjara paling lama 20 tahun penjara,” tandas Robin Simatupang. (RH).

Editor : Navi.

, ,

Berhasil Ungkap Peredaran Narkoba Jenis Shabu, Personil Polres Maros Ini Dapat Penghargaan

LiputanTODAY.Com (Maros) – Keberhasilan personil Polres Maros mengungkap kasus peredaran Narkoba jenis Shabu sebanyak 350 gram di Maros pada akhir tahun lalu. Ini menjadi prestasi tersendiri bagi Polres Maros. Hasilnya, pengungkapan kasus tersebut, membuat 6 personil Polres Maros ini mendapatkan penghargaan.

Penghargaan tersebut langsung diserahkan Kapolres Maros, AKBP Musa Tampubolon SIk SH, kepada 6 petugas berprestasi. Senin, 20 Januari 2020. Penyerahan penghargaan dilakukan di Lapangan Apel Mapolres Maros.

Dalam sambutannya, AKBP Musa Tampubolon SIk SH, mengatakan, penghargaan tersebut diberikan karena keberhasilan dalam pengungkapan kasus Narkoba. Penghargaan yang diberikan berupa wujud perhatian dari pimpinan kepada setiap personil yang berprestasi.

“Diharapkan, seluruh personil dapat memberikan informasi terkait dengan Narkoba. Karena Narkoba adalah musuh kita bersama,” ujar AKBP Musa.

Dia juga mengucapkan selamat dan memberikan apresiasi atas dedikasi dan prestasi yang diraih 6 personil tersebut.

“Semoga ini menjadi motivasi bagi personil lainnya dalam beprestasi dan meningkatkan kinerja,” imbaunya.

Dia juga mengatakan, program reward dan punishment tersebut akan terus dilanjutkan dalam rangka apresiasi anggota.

Selain itu, pemberian penghargaan itu menurutnya akan memotivasi kinerja anggota agar lebih aktif dan profesional

Terkait soal temuan 350 Gram shabu tersebut, Kapolres Maros mengungkapkan saat ini jajarannya terus memantau peredaran Narkoba di Kota Maros. Dia secara tegas telah instruksikan untuk memberantas narkotika bersama dengan instansi terkait lainnya.

“Kita terus berkoordinasi untuk sosialisasi hingga dengan penegakan hukum terhadap penyalahgunaan narkotika,” pungkas Musa.

Selama kurun waktu tahun 2019 sat Narkoba Polres Maros telah mengungkap kasus Narkoba sebanyak 76 kasus dan sebagian besar sudah memiliki putusan hukum tetap dari Pengadilan Negeri Maros

, ,

Ditresnarkoba Polda Bali Gelar Razia Pengunjung Grahadi dan Boshe Night Club

LiputanTODAY.Com (Bali) – Grahadi Bali dan Boshe Night Club menjadi Sasaran Kegiatan Razia Ditresnarkoba Polda Bali terhadap peredaran gelap Narkoba menjelang tahun baru, demikian pula kegiatan tersebut telah tergelar oleh jajaran Direktorat Reserse Narkoba Kepolisian Daerah Bali di sejumlah tempat hiburan malam. Senin (30/12/2019).

Kegiatan Razia Dengan kekuatan 61 Personil yang terdiri dari atas 54 Personil Direktorat Narkoba, 5 personil Direktorat Samapta dan 2 Personil Provost Polda Bali.

Dalam melaksanakan kegiatan razia di tempat hiburan malam yang bertempat di dua lokasi yakni Grahadi Bali dan Boshe Night Club. razia tersebut dalam rangka mencegah peredaran gelap Narkotika di wilayah hukum Polda Bali menjelang Tahun Baru, kegiatan ini dipimpin langsung oleh Bapak Wadir Resnarkoba Polda Bali AKBP Putu Yuni Setiawan S.I.K, M.H.

Adapun langkah-langkah yang di ambil dalam pelaksanaan Razia tempat hiburan malam tersebut yakni, Melaksanakan pengecekan badan dan barang bawaan yang di awasi langsung oleh Anggota Provost Polda Bali, serta Melaksanakan pengecekan air liur menggunakan test kit securetec terhadap para pengunjung maupun LC secara selektif yang diduga menggunakan Narkotika, kegiatan tersebut di awasi langsung oleh Anggota Provost Polda Bali.

Adapun hasil yang capai adalah sejumlah pengunjung dan LC yang diperiksa petugas sebanyak 35 orang terdiri dari 14 orang pengunjung dan 21 orang LC.

Sebagai hasil pemeriksaan tidak ditemukan adanya Narkotika begitu pula sebagai hasil pemeriksaan terhadap pengunjung dan LC dengan menggunakan test kit securetec Negative.

Selanjutnya kegiatan Razia di tutup dengan apel konsolidasi dipimpin langsung Wadir Resnarkoba Polda Bali AKBP Putu Yuni Setiawan S.I.K , M.H.

“Para pengunjung dan penglola hiburan malam silakan beraktifitas dan mencari hiburan tapi jangan dirusak oleh Narkotika dan Minuman keras (Miras),” terang Yuni Setiawan. (Navi/Humas Bali).

5 dari 7 Bandit Jalanan di Tembak Polisi

LiputanToday.Com (Asahan) – 7 orang bandit jalanan yang kerap beraksi di sejumlah kawasan di Kabupaten Asahan di bekuk petugas Satuan Reskrim Polres Asahan. 5 orang diantara nya terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas dibagian kaki nya, karena berusaha melawan petugas dan melarikan diri saat hendak ditangkap.

Kapolres Asahan AKBP Faisal F. Napitupulu, S.I.K., M.H. saat menggelar temu pers di Polres Asahan, Jumat (29/11), menjelaskan bahwa 7 orang tersangka ini merupakan hasil ungkap dari 4 kasus yang dilaporkan oleh masyarakat kepada Polres Asahan.

“Dari 3 orang tersangka terlibat dalam kasus pencurian sepeda motor (curanmor) dan 4 orang pelaku lainnya terlibat kasus pencurian dengan pemberatan (curat). Untuk kasus curanmor ada 2 kasus, dan kasus curat ada 2 kasus”, ungkap Faisal didampingi Kasat Reskrim AKP Ricky Pripurna Atmaja dan Kanit Jatanras Ipda Mulyoto.

Dari para pelaku, petugas menyita sejumlah barang bukti antara lain 1 unit sepeda motor hasil curian, kunci pas ring (kunci T), kalung emas, handphone, serta tas wanita yang berisi buku tabungan dan sejumlah uang.

Kapolres menghimbau agar masyarakat lebih berhati-hati menjaga barang-barang berharga dan terhadap orang-orang disekitar tempat tinggal. “Saya himbau agar masyarakat lebih waspada dan memastikan pintu serta jendela rumah sudah terkunci, untuk menghindari pencuri masuk ke dalam rumah”, kata Kapolres.

Mantan Kasubdit III/Jatanras Ditreskrimum Polda Sumatera Utara ini menegaskan pihak nya bertekat akan terus membasmi kejahatan jalanan yang meresahkan ataupun membahayakan jiwa masyarakat, agar masyarakat bisa melakukan aktifitas dengan nyaman dan aman dimana pun dan jam berapa pun.

Dalam kasus curanmor dan curat, beberapa orang pelaku masih dalam pencarian, dan satu unit sepeda motor haail curian saat ini masuk dalam daftar pencarian barang.

“Saya himbau kepada para pelaku lain agar segera menyerahkan diri, karena cepat atau lambat pasti akan kami tangkap. Kami tidak akan segan-segan melakukan tindakan tegas dan terukur apabila tetap berusaha melarikan diri dan melakukan perlawanan”, tegas orang nomor satu di Polres Asahan tersebut. (Red/Jimmy P).

Karo Penmas Polri: Pasca Bom Bunuh Diri di Polresta Medan, Seluruh Masyarakat Tenang dan Lakukan Aktivitas Seperti Biasa

LiputanToday.Com (JAKARTA) – Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, menyatakan, pihaknya mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap tenang pasca-terjadinya aksi bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Sumatera Utara (Sumut).

“Kami mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan melanjutkan aktivitasnya seperti sediakala,” kata Dedi dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (13/11/2019).

Dedi menekankan, Polri akan mengusut kasus terorisme ini sampai ke akarnya. Tujuannya, agar masyarakat mendapatkan jaminan keamanan.

“Untuk itu Polri mohon dukungan agar dalam waktu tak lama terungkap kasus tersebut kami fokus berikan jaminan kemananan masyarakat,” ujar Dedi.

Kejadian itu mengakibatkan enam orang menjadi korban, terdiri atas 5 polisi dan 1 mahasiswa. Identitas korban ialah Kasi Propam Polrestabes Medan, Kompol Abdul Mutolip yang mengalami luka tangan kanan robek: Kasubbag Bin Ops Polrestabes Medan, Kompol Sarponi yang mengalami luka robek bokong sebelah kanan.

Selanjutnya, Brigadir Si Propam Polrestabes Medan, Aipda Deni Hamdani yang mengalami luka-luka terkena serpihan: Brigadir Si Propam Polrestabes Medan, Bripka Juli Chandra yang mengalami telinga sebelah kanan tidak bisa mendengar, serta PHL Bag Ops, Ricard Purba yang mengalami luka memar di wajah dan lengan.

Satu korban lainnya ialah seorang mahasiswa, Ihsan Mulyadi, mengalami luka di pinggul sebelah kiri terkena serpihan. (Red/Monti).

Sebar Ujaran Kebencian, Oknum PNS di Asahan Ditangkap Polisi

LiputanToday.Com (Asahan) – Seorang Oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Asahan Sumatera Utara, ditangkap Polisi akibat Menyebarkan Ujaran Kebencian di Media Sosial.

Berdasarkan informasi yang diterima, tersangka yang diketahui bernama Wahyu Adi (38) ini yang juga merupakan seorang PNS yang bekerja di bagian Radiologi Rumah Sakit Haji Abdul Manan Simatupang (RSUD HAMS) Kota Kisaran Kabupaten Asahan Sumatera Utara.

“Tersangka diamankan di salah satu warung kopi di jalan Perintis Kemerdekaan Kota Kisaran, Senin (04/11/2019) kemarin”, kata Kapolres Asahan AKBP Faisal F. Napitupulu, S.I.K., M.H. didampingi Waka Polres Kompol M. Taufik dan Kasat Reskrim AKP Ricky Pripurna Atmaja, S.I.K. kepada wartawan, di Polres Asahan Rabu (06/11/2019).

Kapolres mengatakan, Wahyu ditangkap karena dianggap menyebarkan ujaran kebencian dengan cara mengetik status di Media Sosial Facebook milik nya. Isi status Media Sosial yang diketik oleh tersangka yakni : “Rumah dinas Bupati digunakan untuk memfasilitasi nonton bareng orang “Telanjang”, yang sebenarnya menyimpang dari budaya Islam itu sendiri. Alasan mendukung putra/putri daerah tidak boleh kemudian penghalalan segala cara.. lain hal tadi ketika putra/putri itu tidak beragama Islam, tentu saya tidak akan mengomentarinya”. Tulisan tersebut dibagikan di Media Sosial milik tersangka pada tanggal 15 Oktober 2019.

Kapolres menjelaskan bahwa kegiatan (nonton bareng) di rumah Bupati Asahan yang dilakukan pada tanggal 14 Oktober 2019, bukan seperti yang dituduhkan. “Kegiatan yang sama sebelumnya juga sudah pernah dilakukan di beberapa lokasi lain di ruang terbuka dan dihadiri oleh ratusan orang. Kegiatan tersebut adalah nonton bareng acara Kontes Dangdut Indonesia (KDI) 2019”, tegas Faisal.

“Postingan tersangka di Media Sosial tersebut menimbulkan persepsi yang berbeda di masyarakat dan tidak berdasarkan fakta, sehingga dapat menimbulkan kegaduhan di Kabupaten Asahan. Terlepas dari tersangka yang masih mengelak, kita sudah bisa membuktikan dengan 2 alat bukti yang sah dan kita juga sudah meminta keterangan dari ahli bahasa”, ungkap Kapolres.

Polisi mengamankan barang bukti berupa 3 lembar hasil screen shoot postingan Media Sosial Facebook atas nama Wahyu Adi dan satu unit handphone berikut sim card milik tersangka.

“Pelaku akan dijerat dengan Pasal 45A ayat (2) UU no 19 tahun 2016 Subsider Pasal 45 ayat (3) tentang perubahan atas UU RI No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, dengan ancaman hukuman penjara 6 tahun dan/atau denda Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah)”, tutup Kapolres. (Red/Jimmy P).

Puluhan Pelaku Kerusuhan di Papua Ditangkap Polisi

LiputanToday.Com (Jakarta) –Kepolisian telah menetapkan sebanyak 68 Tersangka dalam Peristiwa Unjuk Rasa berujung Kerusuhan yang terjadi di Papua dan Papua Barat.

Sejauh ini kepolisian telah menetapkan 48 tersangka di Papua dan 20 tersangka di Papua Barat.

Menurut keterangan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo mengatakan penambahan tersangka hanya terjadi di Papua. Dengan rinciannya Jayapura sebanyak 28 tersangka, Timika 10 tersangka dan Deiyai 10 tersangka. “Papua Barat masih tetap (jumlah tersangka),” ujarnya di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (3/9).

Rincian jumlah tersangka di Papua Barat antara lain Manokwari delapan tersangka, Sorong tujuh tersangka, dan Fakfak lima tersangka. “Jadi untuk wilayah Papua yang ditetapkan tersangka 48 tersangka, dengan Papua Barat sampai hari ini 20 tersangka,” tuturnya.

Dedi mengatakan Kepolisian saat ini masih mendalami peran dan keterlibatan 10 tersangka di Deiyai. “Masih didalami dan dikembangkan peran masing-masing pelaku,” kata Jenderal Bintang Satu itu.

Sebagian besar, kata Dedi, para tersangka dijerat dengan Pasal 170 KUHP, 156 KUHP, Pasal 365 KUHP, dan Pasal 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 tahun 1951.

Unjuk rasa berujung kerusuhan di Papua dan Papua Barat terjadi menyusul dugaan tindakan rasial terhadap mahasiswa Papua di Surabaya pada pertengahan Agustus lalu.

Aksi unjuk rasa berujung kerusuhan di Papua dan menyebabkan sejumlah kerusakan fasilitas umum. Pemerintah menyatakan kondisi di Papua dan Papua barat sudah kondusif. (Monty).