Hal serupa juga dikatakan Laspiter Siahaan, menurutnya seperti ada pembiaran alat berat keluar masuk tanpa pengawasan di kawasan migas yang sensitif. Padahal, menurut peraturan, area pipa dan gudang bahan peledak (handak) merupakan zona terbatas dan berbahaya, yang semestinya steril dari aktivitas alat berat.
“Ini ancaman keselamatan publik. Excavator yang beroperasi tanpa izin di area pipa migas dan gudang bahan peledak bisa menimbulkan bencana besar. Aparat harus segera bertindak. Indikasi perusakan aset, jual beli tanah ilegal, hingga penggunaan alat berat tanpa izin di wilayah vital tidak hanya merugikan negara, tetapi juga melanggar aturan keselamatan kerja dan perlindungan objek vital nasional,” ujar Laspiter.
Menangapi hal tersebut, Ketua Lembaga Aliansi Indonesia Kabupaten Bengkalias, Kornelius Samosir mengatakan, kuat dugaan keterlibatan oknum yang membiarkan aktivitas ini berlangsung, indikasinya tidak ada langkah tegas dari pihak Pertamina dan aparat penegak hukum menjaga aset dan mencegah adanya insiden serius.
“Situasi ini menjadi alarm keras bagi pihak Pertamina, pemerintah dan aparat penegak hukum untuk segera turun tangan sebelum terjadi kerusakan yang tak terpulihkan. Pipa minyak bukan sekadar aset perusahaan, melainkan urat nadi energi nasional yang harus dijaga dari segala bentuk penyalahgunaan dan keserakahan,” tegas Kornelius.
Pihaknya dan warga sekitar berharap, Pertamina dan aparat berwenang tidak lagi menutup mata terhadap aktivitas ilegal yang nyata-nyata mengancam keselamatan publik. Sebab jika dibiarkan berlarut, bukan hanya aset negara yang hancur, tetapi juga keselamatan warga yang dipertaruhkan. ***(SHI GROUP)
(Tim/Red)







