“Kami ini bukan minta banyak. Hanya butuh perlengkapan dasar, ruang latihan, dan perhatian. Tapi justru Dispora bikin lomba opini dengan hadiah belasan juta. Ini benar-benar menyakitkan,” ungkapnya lirih.
Di lain pihak, beberapa pengurus klub olahraga swasta juga mengeluhkan sulitnya mendapat akses ke bantuan atau fasilitas dari pemerintah daerah. Mereka mengaku harus bersaing dengan proposal-proposal fiktif dari lembaga yang tidak memiliki program pembinaan nyata.
Seiring dengan meningkatnya kritik dari masyarakat, banyak pihak kini menanti respons dari Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, yang dikenal vokal soal efisiensi anggaran dan program berbasis hasil.
“Kalau benar Wali Kota ingin Pekanbaru punya prestasi olahraga, maka ini momen tepat untuk bersih-bersih dinas. Jangan biarkan dana publik dihabiskan untuk program yang tidak menyentuh akar persoalan,” tutup Rahmat Handayani.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Dispora Kota Pekanbaru terkait polemik ini. Namun yang jelas, suara kekecewaan dari para pejuang olahraga di lapangan telah terdengar sangat nyaring jauh lebih penting daripada lomba menulis opini yang sedang mereka selenggarakan.***(rls/red)







